kopditcubonaventura@gmail.com
0811-5791-300

Menembus Jarak, Merawat Harapan

Hari itu, langit masih biru cerah ketika saya bersama Pandu (Staf Pemasaran TP Nyarumkop) dan Wenses (Kabag Kredit TP Ledo) memulai perjalanan panjang menuju Abah, Desa Suka Maju, Kecamatan Suti Semarang, Kabupaten Bengkayang. Wilayah ini cukup jauh dan hanya dapat diakses melalui jalur sungai dengan waktu tempuh kurang lebih tiga jam menggunakan perahu.

Kami berangkat dari Tempat Pelayanan Ledo ke Steher (dermaga perahu) pukul 08.00 pagi. Sembari menunggu jemputan perahu, kami mampir di warung milik salah satu anggota CU Bonaventura. Di sana kami minum kopi dan berbincang ringan. Ternyata, pemilik warung adalah seorang anggota dari daerah karangan, Kec, Mempawah Hulu yang kini menetap di Ledo setelah menikah di Abah. Percakapan itu menjadi awal hangat dari perjalanan panjang kami hari itu.

Sekitar pukul 13.00 wib, kami akhirnya naik perahu. Bukan hanya kami, tetapi juga beberapa warga yang hendak pulang, serta tumpukan pupuk organik yang belum matang terfermentasi yang “menyapa” dengan aroma khasnya. Bagi saya yang baru pertama kali, harus jujur, sedikit mual juga rasanya. Tapi semua itu tertutup oleh pemandangan sepanjang sungai yang menakjubkan. Cuaca cerah, air sungai yang makin ke hulu makin jernih, dan pohon-pohon rindang di tepi sungai membuat perjalanan ini terasa seperti dalam lukisan alam.

Kami menikmati bekal makan siang yang kami beli dari warung sebelum naik perahu. Setelah itu, saya pun sempat tertidur sejenak karena perjalanan yang begitu syahdu.

Sekitar pukul 16.00 wib kami tiba di Abah. Kami langsung menuju rumah singgah yang biasa digunakan kawan-kawan manajemen CU Bonaventura saat kunjungan ke daerah ini. Rumah itu milik Pak Loren, salah satu anggota setia CU Bonaventura. Saat kami tiba, beliau masih di ladang, memanen padi gunung bersama warga lain secara balale’ / gotong royong. Namun seperti pesan beliau sebelumnya, “Kalau datang, masuk saja, anggap rumah sendiri, kita ini keluarga.” Sungguh, kepercayaan yang menguatkan tekad kami untuk selalu hadir disini.

Tak lama kemudian, Pak Loren dan istrinya tiba bersama rombongan yang baru selesai panen. Setelah istirahat sejenak, kami bersiap melaksanakan tugas utama kami: pendampingan anggota CU Bonaventura di wilayah terpencil ini. Karena mayoritas warga bekerja di ladang dan kebun sepanjang hari, kunjungan ke rumah-rumah anggota kami lakukan malam hari, dimulai pukul 19.00.

Walaupun hari gelap, semangat tetap membara. Kami mendatangi anggota satu per satu, kami disambut dengan sangat ramah. Sembari berbicang-bincang seputar CU Bonaventura, mereka mengeluarkan uang dari saku mereka untuk menabung, ada juga untuk membayar pinjaman. Di sini, tidak ada listrik PLN. Mereka menggunakan listrik tenaga surya sebagai penerangan. Namun, semangat mereka untuk tetap aktif sebagai anggota CU Bonaventura sungguh luar biasa.

Salah satu sosok inspiratif adalah tuan rumah untuk kami beristirahat selam 2 hari 1 malam, Pak Loren. Walaupun hanya tinggal berdua bersama istrinya, anak anak mereka sedang mengayam pendidikan dua orang kuliah dan satunya masih dibangku SMA, beliau bisa mengelola ladang padi, jagung, beternak babi, ada gedung wallet juga, dan tetap setia menjalankan kewajibannya sebagai anggota CU Bonaventura. Malam itu kami mengobrol, bercanda, dan bertukar cerita. Anggota yang hadir pun banyak yang menyampaikan keluh kesah dan bertanya seputar layanan CU Bonaventura.

Malam semakin larut, tapi kehangatan tetap terasa. Saya pribadi merasa bersalah, karena setelah begadang berbincang bersama kami, ternyata Pak Loren harus bangun pukul 3 dini hari untuk “noreh”/menyadap air karet. Sosok yang begitu rajin, rendah hati, dan penuh semangat. CU Bonaventura bangga memiliki anggota seperti beliau.

Pagi harinya, kami menikmati kopi sambil melihat anak-anak bersiap berangkat ke sekolah. Hujan turun, dan mereka tetap berjalan, dengan plastik sebagai pelindung tas mereka. Hati ini terenyuh. Tapi di balik semua keterbatasan itu, mereka tetap semangat menimba ilmu.

Setelah sarapan, perahu penjemput kami pun tiba. Kami kembali menyusuri sungai, kali ini diguyur hujan. Tapi ada terpal penutup di perahu, cukup membuat kami hangat. Di tengah guyuran hujan itu, saya merenung—betapa luar biasanya perjalanan ini. Bukan hanya menyusuri sungai, tapi juga menyusuri kehidupan dan harapan para anggota CU Bonaventura di pelosok

Mereka mungkin tinggal jauh dari pusat pelayanan. Tapi semangat mereka untuk tetap menjadi bagian dari keluarga besar CU Bonaventura sungguh membanggakan. CU Bonaventura hadir tidak hanya sebagai lembaga keuangan, tapi juga sebagai sahabat, keluarga, dan harapan bagi mereka.

Sampai berjumpa lagi dilain waktu

Salam Pemberdayaan

0 Komentar
Tinggalkan Komentar

Video