kopditcubonaventura@gmail.com
0811-5791-300

Melewati Cobaan, Menyalakan Harapan yang Perlahan Padam

“Ah, Hujan lagi, Hujan lagi..” ucap saya dalam hati sambil memanaskan mesin motor dan menatap langit yang sudah mendung. Hari itu Saya dan Bambang (Staf Kerdit TP Nyarumkop) ditugaskan untuk melakukan pelayanan di Kec. Lembah Bawang, Kabupaten Bengkayang, wilayah ini cukup jauh dan cukup terkenal, bukan dari kulinernya ataupun wisatanya, melainkan dari medannya. Desa yang akan kami tuju adalah Desa Tempapan, lebih tepatnya di Dusun Barak Asam. Untuk menuju ke Dusun Barak Asam, terdapat beberapa jalur yang dapat dilewati, dan di setiap jalur memiliki tantangan tersendiri, ada yang jalannya sempit, berlubang, berbatu, bahkan ada yang becek dan licin. Kami memilih melewati jalur wilayah Seluang, Kelurahan Mayasopa, jalur ini melewati daerah Perkebunan sawit milik Perusahaan. Seperti jalan kebun pada umumnya, Dimana jalur ini didominasi oleh tanah kuning yang becek dan licin jika terkena hujan. Kami memilih jalur ini karena jarak yang cukup dekat dibandingkan jalur lainnya, dengan estimasi waktu kurang lebih 1 jam 15 menit.

Perjalanan diawali dengan doa dalam hati yang diringi gerimis di parkiran kantor Tempat Pelayanan Nyarumkop. Tidak banyak yang bisa dibahas diawal perjalanan, karena kami berdua cenderung saling diam dan minim sekali pembicaraan, hingga sampailah di pertengahan jalan/jalur pekebunan sawit. Ocehan dan keluhan mulai terdengar dari mulut kami, “Aduh bang, gimana ini..” ucap saya sambil melihat jalan didepan yang becek dan licin, hanya ada Papan dengan lebar kurang lebih 15-20 cm yang menjadi harapan kami, papan tersebut disusun di tepi jalan. Bambang lebih memilih untuk turun dan berjalan kaki agar mudah untuk melewati jalur yang becek dan licin itu. “Rasanya bulan lalu jalurnya tidak separah ini, seberapa lebatkah hujan yang turun sebelumnya…”, seperti itulah kira-kira pertanyaan yang muncul di dalam hati saya. Setelah beberapa menit melanjutkan perjalanan, akhirnya kami sampai, bukan sampai di Barak Asam, namun sampai dititik kedua jalur/jalan yang becek dan licin, kali ini tantangan nya lebih berat, karena tidak ada papan seperti dititik sebelumnya, terpaksa kami melewati becek yang dalam bekas jalur mobil, saya menyuruh Bambang berjalan kaki terlebih dahulu sambil mengecek dan memastikan jalur yang akan saya lewati menggunakan motor. Dititik becek yang kedua ini tidak hanya kami yang merasa berat setelah melewatinya, tetapi motor yang kami gunakan juga merasa sudah bekerja keras untuk melewatinya, ditandai dengan munculnya asap pada luar mesin yang terkena becekan/gubangan air. Perjalanan kami lanjutkan hingga sampai pada Desa Kinande, jalur dari Desa Kinande ke Desa Tempapan didominasi oleh campuran bebatuan dan tanah kuning, di jalur ini kami merasa sudah aman, karena jalur yang licin sudah kami lewati. “Ekspetasi bukanlah janji dari kenyataan..”, begitulah yang terlintas dipikiran saya setelah samping kanan motor kami menghantam batu besar yang bersembunyi dibalik kubangan air, kejadian ini menyebabkan tuas rem kaki motor kami bengkok kedalam sehingga tidak bisa lagi digunakan, dan kami hanya bisa menggunakan rem tangan saja. Tidak hanya medan/jalur yang menjadi tantangan, kami juga harus berlomba dengan waktu, karena kami sudah merencanakan kegiatan Pertemuan Kelompok Anggota (PKA) di Dusun Pagon, Desa Papan Uduk (Ujung sedikit dari Desa Tempapan).

Pukul 13.50 kami pun tiba di Dusun Barak Asam, Desa Tempapan, pemberhentian pertama kami yaitu di Rumah Pak Paisal yang merupakan tempat biasa kami beristirahat dan menginap. Cukup 3 menit untuk kami bersilahturami dan menunjukkan bahwa kami sudah sampai dengan selamat sebelum kami melanjutkan perjalanan ke Warung Pak Jakius yang merupakan tempat biasa kami mangkal/pelayanan. Tidak lama dari itu, saya meninggalkan Bambang di pangkalan dan bergegas menuju Dusun Pagon, Desa Papan Uduk untuk melaksanakan kegiatan Pertemuan Kelompok Anggota, dengan estimasi perjalanan kurang lebih 10 menit. Sesampainya di Rumah Pak Suandi (Tempat Kegiatan), saya cukup terharu, karena anggota yang hadir berjumlah 11 orang dengan ekspetasi saya yang mungkin hanya dihadiri oleh 5-7 peserta, mengingat sudah lama tidak diadakannya kegiatan CU Bonaventura di Desa Papan Uduk, atau bisa dibilang ini merupakan kegiatan perdana kami di Desa Papan Uduk setelah sempat vakum selama bertahun-tahun. Di kegiatan PKA pertama ini kami lebih banyak mengobrol  dan diskusi, mulai dari perkenalan, menginformasikan jadwal pelayanan,menerima keluhan dan saran, serta mengajak peserta untuk aktif menabung kembali, selain itu saya juga menjelaskan mengenai manfaat/keuntungan yang anggota dapatkan ketika aktif menabung, agar peserta termotivasi untuk aktif kembali menabung. Keluhan dan saran yang diucapkan oleh peserta tidak lain dan bukan yaitu mengenai jarak dan kondisi Jalan/jalur yang menyebabkan mereka tidak aktif menabung. Dengan ini peserta memiliki sebuah harapan untuk kami tetap melaksanakan pelayanan dan kegiatan untuk memudahkan mereka menabung. Waktu sudah menunjukkan Pukul 17.00, sudah waktunya saya berpisah dengan peserta, dengan rencana tindak lanjut yaitu mengadakan kegiatan PKA lagi di Bulan Berikutnya. Saya pun bergegas kembali ke tempat pangkalan untuk menjemput Bambang ditemani matahari yang mulai terbenam dan suara perut yang meminta untuk di isi.

 Ketika kami sampai di Rumah Pak Paisal kami di sambut oleh beliau beserta Istrinya, tidak hanya mereka berdua, santapan nikmat lengkap dengan minuman manis dingin pun turut menyambut kedatangan kami, tanpa basa-basi yang panjang kami pun langsung menyantap makanan yang sudah di sediakan oleh mereka. Waktu menunjukkan Pukul 18.30, Capek dan semangat kami hari ini tidak berhenti di momen makan malam saja, karena kami harus bergegas menuju ke Dusun Pacong, Desa Papan Tembawang, karena kami sudah memiliki rencana untuk melaksanakan kegiatan Sosialisasi dan Motivasi, lama perjalanan yang ditempuh kurang lebih 20 menit. Begitu juga dengan cobaan kami yang tidak berhenti begitu saja, karena sesampainya kami ke rumah Pak Jumanto (tempat kegiatan), kami di sambut oleh cahaya lilin, yang menandakan terjadinya pemadaman Listrik yang disebabkan oleh putusnya kabel. Hal ini menjadi cobaan sekaligus tantangan kami dalam mengadakan kegiatan. Peserta dihadiri sebanyak 11 orang, tidak seperti lampu yang padam, antusias peserta untuk mengenal dan bertanya tentang CU Bonaventura sangat tinggi. Dengan kegiatan ini harapannya, semakin bertambahnya anggota CU Bonaventura khususnya di Kec. Lembah Bawang. Setelah kegiatan, dan sesampainya kami ketempat menginap (Rumah Pak Paisal) saya pun langsung menuju kamar dan tidur untuk membayar lelahnya aktivitas selama 1 hari, tanpa ada kepikiran untuk mandi terlebih dahulu.

Pagi hari, kami sudah di sambut dengan Sarapan yang disedikan oleh tuan rumah. Setelah sarapan, kami pun Bersiap-siap untuk menuju pangkalan (Warung Pak Jakius) untuk melakukan pelayanan kepada anggota seperti menerima dan menjemput setoran serta konsultasi kredit. Tidak terasa waktu sudah sore, kami pun Bersiap-siap untuk pulang, namun sebelum itu kami istirahat makan terlebih dahulu sekaligus berpamit kepada Pak Paisal beserta Istrinya, lagi-lagi kami disediakan hidangan lengkap dengan minuman manis dingin. Perjalanan pulang kali ini kami memutuskan untuk melewati Desa Janyat untuk menghindari jalan yang licin dan becek kemarin di jalur Desa Kinande. Perjalanan pulang kami ditemani hujan yang cukup deras, namun tidak masalah bagi kami, karena kami sudah tidak sabar untuk pulang menikmati akhir pekan kami bersama keluarga. Diperjalanan, setelah melewati Dusun Cumbu motor kami mendadak mati, sepertinya bukan hanya kami yang kelelahan, namun motor kami juga meminta untuk istirahat. Semua harapan kami terutama ingin pulang dan berisitrahat cepat menjadi tertunda. Kami sempat pasrah karena langit sudah gelap (malam) dan kebetulan kami berdua tidak mengerti otomotif, hingga kami sepakat untuk meminta bantuan kepada orang yang lewat. Diawali dengan mencoba memberhentikan Bapak-bapak beserta istrinya, namun mereka tidak dapat menolong karena tidak memiliki alat. Percobaan kedua dilakukan dengan memberhentikan rombongan penambang emas, kami masih menerima jawaban yang sama dan mereka terlihat seperti terburu-buru seperti ingin cepat kembali kerumah setelah lelahnya bekerja. Di percobaan ketiga kami mencoba kembali memberhentikan rombongan penambang emas, yang kami terima masih dengan jawaban yang sama, namun harapan mulai muncul ketika mereka bersedia untuk “Step”/Stut kendaraan kami, tanpa ragu kamipun menerima tawaran itu. Setelah sampai di Wilayah Seluang, kami menemukan Bengkel motor yang masih buka, kami pun berpisah sekaligus berterimakasih kepada rombongan yang sudah menolong kami. Setelah di “otak-atik” oleh mekanik bengkel, kendaraan motor kami pun sudah bisa menyala, hal ini membuat hati kami menjadi lega bagaikan melihat sepucuk bunga yang tumbuh di tengah-tengah tanah yang gersang.

Di sisa perjalanan pulang setelah melewati berbagai tantangan, saya tersadar: pelayanan kali ini bukan sekadar pengisi waktu luang menjelang akhir pekan, melainkan sebuah usaha untuk menyalakan kembali harapan yang perlahan padam. Tak ada sesal yang tersisa. Senyum dan antusiasme para anggota yang menanti kehadiran kami untuk menabung demi impian mereka adalah bayaran yang lebih dari cukup. Ini bukan lagi soal nominal uang, melainkan tentang niat, semangat, dan rasa tanggung jawab yang hidup di hati mereka. Setelah dua hari perjalanan yang menguras tenaga ini berakhir, saya memilih menutupnya dengan menyantap ayam goreng kesukaan, sebuah apresiasi kecil yang sering disebut anak muda sebagai “Self Reward”.

Sampai bertemu di perjalanan selanjutnya!.

Salam Pemberdayaan

0 Komentar
Tinggalkan Komentar

Video